Langsung ke konten utama

(Mencoba) Hidup Minimalis

Sejak dahulu aku bukan seseorang yang bisa didefinisikan sebagai minimalis. Mungkin karena aku memiliki banyak hobi kreatif, kamarku biasanya dipenuhi dengan barang-barang hobi, seperti alat gambar, peralatan crafting, perlengkapan menulis, bahkan barang-barang yang tidak lagi bernilai namun terlalu sayang untuk aku buang.

Aku adalah tipe orang yang sentimental, jadi menurutku hidup minimalis bukan sesuatu yang cocok untukku, karena terlihat begitu kosong dan tidak memiliki makna, tapi ternyata aku keliru. Perubahan itu terjadi ketika aku pusing karena kamarku yang sangat mudah berantakan, dan aku berpikir akan mencoba mengurangi barang-barangku agar menghemat waktu untuk bersih-bersih. Namun setelah membuang barang-barang yang tidak aku perlukan lagi, entah mengapa rasanya lebih lega dan tenang.

Everything Start with Decluttering 

Kita biasanya memiliki jadwal rutin bersih-bersih, namun hanya sekedar bersih-bersih hasilnya akan berbeda dengan declutter (menyortir dan membuang barang yang tidak diperlukan lagi). Rasanya seperti declutter memiliki dampak psikologis karena kita tidak bergantung secara emosional lagi terhadap sebuah barang. Dengan membuang barang yang tidak bernilai lagi, kita menyediakan tempat kosong untuk sesuatu yang baru dan yang lebih bernilai. Selain itu, aku merasa lebih fokus dan tidak mudah terdistraksi oleh benda-benda yang ada di sekelilingku. Hidupku menjadi lebih berkualitas dan fokus, bukanya membosankan, aku justru bisa memusatkan perhatian pada hal-hal yang benar-benar penting bagiku.

Sekarang aku justru sangat menyukai menyortir barang dan membuang barang-barang yang tidak aku butuhkan lagi. Terdapat kepuasan sendiri saat melihat kamarku yang rapi dan tertata, serta banyak area kosong sehingga tidak terasa sesak. Tentunya aku hanya bisa melakukan ini untuk kamarku sendiri karena aku masih tinggal bersama orangtua dan tentunya aku tidak boleh membuang barang mereka sembarangan. 

Biasanya decluttering ini adalah kegiatan musiman, artinya hanya dilakukan sesekali saja karena memang memakan waktu. Namun untuk aku sendiri, aku usahakan sehari minimal ada satu barang yang aku kurangi, kalau memang tidak bisa, aku akan berusaha untuk tidak menambah lebih banyak barang lagi. Dengan begitu kebiasaan baik akan terbentuk dan perlahan-lahan ruanganku akan bersih tanpa perlu mengerjakan semuanya dalam satu hari.

Only Buy and Save Things That is Important to Me

Sekarang bayangkan kita sudah membuang banyak tenaga untuk bersih-bersih, eh pas keluar malah beli banyak barang lagi, menambah tumpukkan barang di rumah, maka usaha kita untuk decluttering akan sia-sia. Karena itu hidup minimalis itu perlu dipertahankan dari kebiasaan kita, bukan hanya bersih-bersih, atau mengirit, konsepnya lebih dari itu. Setiap orang tentu memiliki prinsip berbeda-beda, untuk aku sendiri ada beberapa prinsip yang aku terapkan dalam membeli barang supaya benar-benar worth it untuk ada di dalam hidupku.

  1. Tidak membeli barang yang masih aku miliki di rumah. Kadang aku memang tergoda ingin membeli sesuatu karena terlihat menarik atau sedang promo, tapi aku memikirkan akan sulit untuk menghabiskan atau menyimpannya nanti. Jadi jika aku sangat ingin sesuatu, aku akan memastikan itu penting dan belum aku miliki.
  2. Tidak membeli barang dekoratif. Barang dekoratif ini tergantung ya... sesuai dengan keadaan saja. Bukan berarti aku tidak membeli barang dekoratif samasekali, aku masih menempel gambar-gambar, karya-karya lukisku di dinding kamarku. Namun aku juga lebih menyukai banyak space kosong di ruanganku, jadi aku usahakan tidak membeli banyak barang dekoratif karena akan menjadi sarang debu. Kecuali dekorasi itu masuk dalam kategori dream room aku haha.
  3. Tidak membeli barang yang cepat rusak dan tidak berkualitas. Minimalis bukan berarti berhemat dan mengeluarkan uang seminimal mungkin. Tapi, minimalis adalah menyediakan tempat untuk barang-barang yang benar-benar berharga dan penting. Ada istilah "lebih baik membeli mahal daripada membeli dua kali.", kalimat itu yang sedang aku usahakan untuk terapkan sekarang, berusaha menabung untuk barang-barang yang berkualitas agar kualitas hidupku juga meningkat.
  4. Tidak membeli barang yang tidak benar-benar aku butuhkan. Dulu aku suka mengeluarkan uang untuk barang yang tidak aku inginkan, bahkan aku juga sering melakukan impulsive buying, namun sekarang setiap aku ingin membeli sesuatu aku selalu membuat semacam list apa yang aku butuhkan agar aku tidak keluar jalur dan membeli barang-barang yang sebenarnya tidak aku butuhkan. 
  5. Membuat skala prioritas dan menerapkannya. Skala prioritas adalah urutan kebutuhan atau tugas yang disusun berdasarkan urgensinya. Skala prioritas penting untuk mencegah impulsive buying, membeli barang yang tidak berguna, dan tetap fokus pada prioritas yang ada. Setiap orang tentu memiliki skala prioritas yang berbeda-beda, seperti aku yang menetapkan bahwa barang untuk perawatan diri lebih penting daripada baju atau aksesoris. 

Maximize Everything

Yang satu ini benar-benar life-changing sih. Jika mempunyai barang, aku harus memaksimalkan fungsinya. Agar aku bisa lebih menghargai apa yang aku punya dan tidak menyia-nyiakan hal sekecil apapun. Contohnya aku tidak membuang sesuatu sebelum benar-benar habis atau rusak, meskipun aku tidak menyukai barang atau produk itu, karena aku harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah aku pilih. Dengan begitu, di masa depan aku tidak akan membeli barang sembarangan lagi karena aku harus benar-benar menggunakannya dan tidak menyia-nyiakannya. Namun tentunya ada cara lain jika memang ktia benar-benar tidak ingin menggunakan barang tersebut, kita bisa memberinya ke orang terdekat, atau menyumbangkannya ke yang membutuhkan. 

Using Library

Sebagai seseorang yang sangat suka membaca buku, dulu aku sangat ingin mengkoleksi buku-buku, buku apapun itu. Apakah sekarang keinginan itu sirna? Tidak. Aku masih berencana mengkoleksi banyak buku hingga mempunyai perpustakaanku sendiri. Namun, jika dulu aku membeli semua buku, bahkan buku yang bersifat eksploratif (buku coba-coba, yang aku tidak yakin bagus atau tidak), sekarang aku hanya menyimpan dan membeli buku yang aku yakin 100% akan aku sukai. Sementara untuk buku-buku eksploratif akan aku baca lewat perpustakaan, karena besar kemungkinan aku tidak akan menyukai buku tersebut, jadi lebih baik menyediakan tempat untuk buku yang aku sukai, tanpa berhenti mengeksplorasi buku-buku lain.

Make Wishlist for Things i Want

Menjadi minimalis bukan berarti tidak membeli barang samasekali. Aku pun maish banyak wishlist bahkan untuk barang yang bisa dibilang buang-buang uang bagi orang lain, tapi jika itu membahagiakan maka harus diusahakan. Karena itulah sangat penting untuk memiliki wishlist, agar kita benar-benar tahu apa yang kita inginkan, juga agar kita bisa memprioritaskan mana yang saat ini benar-benar dibutuhkan.

Oke itulah kebiasaan yang aku terapkan yang sebenarnya hanya beberapa saja dari banyaknya penerapan hidup minimalis yang ada. Aku juga masih belajar dan mencoba banyak hal. Kalau kamu adalah seorang maximalist dan tidak cocok dengan minimalist maka tidak ada yang salah dengan itu. Yang penting kita semua tau apa yang kita inginkan. 

Terimakasih sudah baca sampai di sini, tangan aku mulai keriting, jadi see you di tulisan selanjutnya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ichigo Ichie: Seni Menghargai Setiap Momen, Kunci Kebahagiaan ala Jepang (Review Buku)

Kita hanya hidup satu kali, tetapi jika kita menjalankannya dengan benar, satu kali saja sudah cukup. is this book for you? buku ini untukmu, jika... Kamu ingin membaca buku yang ringan dan tipis tapi tetap memberikan ilmu baru. Kamu ingin membaca buku di sore hari sambil minum kopi/teh dan mendapatkan ketenangan. Kamu selalu gelisah tentang masa depan dan takut dengan apa yang akan terjadi. Kamu ingin belajar bagaimana cara menjalani hidup sekaligus menghayatinya. Kamu ingin belajar untuk mendapat ketenangan dan kebahagiaan setiap harinya. hal yang mungkin tidak kamu sukai dari buku ini... Buku ini tidak mengupas tuntas teori-teorinya. Buku ini hanya membahas sampai batas praktikal saja. about this book blurb Setiap momen dalam hidup kita hanya terjadi sekali, dan jika membiarkannya berlalu, kita akan kehilangan selamanya. Ungkapan Jepang ini dikenal dengan "Ichigo Ichie". Ia bisa diartikan sebaagai "Once, a meeting". Ichigo Ichie mengajak kita untuk bersyukur atas...

Once Upon a Broken Heart Series: OUABH, The Ballad of Ever After, a Curse for True Love (Review Buku)

 "Menurutku, akhir yang bahagia tersedia untuk semua,. Tapi, aku juga berpendapat bahwa akhir yang bahagia belum tentu bertahan selepas tamatnya sebuah buku dan akhir yang bahagia tidak dijamin bisa didapatkan oleh semua orang. Akhir yang bahagia adalah mimpi yang ingin kabur ke tengah malam. Akhir yang bahagia adalah peti harta karun bersayap. Akhir yang bahagia adalah entitas yang liar, serampangan, dan seenaknya sendiri, harus selalu dikejar karena jika tidak, mereka pasti lari." is this book for you? buku ini untukmu, jika... Kamu suka tema fairytale, mitos, kerajaan, pesta, dansa, dan kutukan Kamu suka worldbuilding yang bagus dan suasana yang kuat Kamu suka main lead yang morally gray (+ sarkastik abis) Kamu suka romance yang bikin gregetan dan penuh plot twist Kamu suka romance trope enemies to lovers  hal yang mungkin tidak kamu sukai dari buku ini Female lead-nya kadang terlalu naif Plot tidak terlalu wow walau banyak plot twist Kebanyakan fanservice (not a bad thing...

New Hobby : Crafting Paper Stars

Baru-baru ini ada kejadian yang mengubah drastis hidupku. Sebenarnya bukan kejadian besar seperti pindah keluar negeri atau dapat uang kaget dari orang ga dikenal, tapi ya perasaan bahagia dan puasnya mungkin bisa dibilang seakan aku mendapatkan pencerahan yang sangat berharga daripada benda dan pencapaian apapun. Semuanya berawal dari rasa bosanku, walaupun yah sebenarnya aku punya skripsi yang kuabaikan, 5 buku yang belum selesai aku baca, 17 season criminal minds yang belum aku tonton semua, blog yang belum ada aku update dari tahun kemarin, sampai skill menggambar dan pianoku yang tidak pernah aku asah lagi karena malas. Memang ya semut di seberang pulau terlihat, tapi gajah di depan mata tidak terlihat . Mungkin karena aku tipe orang yang suka mengoleksi "gajah"--maksudku hobi haha. Jadi yang membuatku senang adalah saat awal aku melakukan hobi itu dan belajar menguasainya, apabila aku sudah cukup lama menggeluti hobi itu hingga aku menjadi cukup ahli atau berpengetahuan...