"Aku tidak ingin bermain musik lagi. Sampai kapan pun. Aku hanya ingin mendengarkan permainannya."
is this book for you?
buku ini untukmu, jika...
- Kamu suka mitologi Yunani atau cerita-cerita berdasarkan legenda yang dipenuhi sihir, kutukan, dan ramalan.
- Kamu suka gaya tulis elegan dan penuh perumpaan yang bisa memperluas imajinasimu.
- Kamu suka tema cerita berat tentang perang, petualangan, kehilangan, dan tragedi.
- kamu suka buku yang membuatmu tenggelam ke dalam dunianya sehingga kamu lupa kamu sedang membaca.
- Kamu suka buku yang membuatmu terdiam, merenung, dan menatap langit-langit setelah selesai membacanya.
hal yang mungkin tidak kamu sukai dari buku ini...
- Buku ini mengandung unsur LGBTQ yang kuat. (penjelasan lebih lanjut ada di review!)
- Buku ini cukup tebal dan ceritanya kompleks.
- Buku ini mengandung unsur-unsur sensitif seperti kekerasan, pembun*han, hubungan seks*al, dan pemerk*saan (tapi tidak dalam arti diromantisasi! tenang saja).
about this book
sinopsis singkat
Kisah tentang seorang pangeran kikuk yang diasingkan ke istana Raja Peleus. Pangeran itu bernama Patroclus. Patroclus sejak kecil selalu diperlakukan buruk dan diremehkan, semuanya berubah ketika ia bertemu dengan Achilles setelah ia diasingkan. Mereka menjadi dekat dan melengkapi satu sama lain.
Buku tentang persahabatan, cinta, perang, arogansi, penyesalan, sejarah, dan kemasyhuran.
identitas buku
Judul : The Song of AchillesPenulis : Madeline Miller
Alih Bahasa : Tanti Lesmana (Indonesia)
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2012 (original), 2019 (Terjemahan)
Halaman : 488
Genre : Fantasi
Link pembelian : Tokopedia
REVIEW
my rating to this book
⭐⭐⭐⭐⭐
5/5
the forbidden love
Aku tertarik dengan buku ini karena judul serta covernya yang menggoda. Terlebih aku sudah pernah membaca buku karangan Madeline Miller lain yang berjudul Circe jadi aku memiliki keyakinan bahwa buku ini akan bagus juga.
Aku samasekali tidak tau tentang isinya yang mengandung unsur LGBTQ hingga temanku mengatakannya kepadaku. Aku berpikir "Ah tidak apa-apa, aku kan cuma mengejar fantasinya, aku bisa anggap itu tidak ada".
Dan memang awalnya aku merasa tidak nyaman, sangat tidak nyaman bahkan. Tapi ada yang bisa mengonmpensasi rasa tidak nyaman itu, yaitu betapa indahnya Patroclus mendeskripsikan Achilles dan menggambarkan rasa kekagumannya.
Di dalam buku ini, kamu tidak akan pernah mendengar kalimat seperti, "Aku mencintaimu!" secara gamblang diucapkan, tapi lebih dari itu, kamu akan merasakan apa yang ia rasakan di dalam hatinya dan kamu akan menyadari, bahwa ia sedang jatuh cinta jauh lebih dulu daripada Patroclus sendiri.
Cinta itu hal yang rumit dan tidak semua orang dapat mendeskripsikan cinta dengan benar. Tapi penulis buku ini dapat melakukannya dengan benar.
characters
Aku selalu suka buku yang menggambarkan secara dalam kepribadian karakternya, bahkan membuat kepribadian itu menjadi alasan terjadinya konflik atau pertikaian, karena kita jadi tau konsekuensi apa yang bisa terjadi dari keputusan yang kita buat berdasarkan penilaian dan kepribadian kita.
Patroclus adalah karakter yang di deksripsikan sebagai karakter yang lemah dan tidak percaya diri. Namun di dalam cerita, karakternya akan berkembang perlahan karena kehadiran Achilles.
Achilles sendiri merupakan karakter paling penting di dalam buku ini meskipun buku ini ditulis dari sudut pandang Patroclus. Sikap Achilles yang terlalu percaya diri, naif, dan tidak ingin kalah membuat beberapa hal buruk terjadi di dalam hidupnnya. Tapi aku suka itu, Achilles ya Achilles, dia memang percaya diri dan arogan, sifatnya itu terbentuk karena ibunya dan ramalan yang membuat ia menaruh ekspektasi kepada dirinya sendiri. Tapi Achilles berprinsip kuat, tidak perduli apa yang orang lain katakan padanya, tidak suka orang melarangnya berbuat sesuatu yang ia yakini benar, tidak ingin martabatnya direndahkan, dan tentu semua itu ada konsekuensinya.
beautiful writing style
Buku ini sangat tebal hingga aku berpikir akan sulit untuk membacanya. Tapi sebaliknya aku membaca buku ini dengan sangat lancar bahkan mungkin lebih cepat daripada membaca buku dengan halaman yang tidak terlalu banyak. Hal ini karena gaya penulisannya yang membuat kita tenggelam ke dalam bukunya hingga kita lupa kita sedang membaca. Selain itu meskipun tebal aku tidak merasa buku ini bertele-tele, alurnya cepat dan deskripsinya tidak berlebihan. Buku Madeline Miller memang rata-rata tebal karena biasanya menceritakan kisah perjalanan sang pemeran utama dari kecil hingga akhir. Aku menyadarinya setelah membaca dua bukunya yaitu Circe dan buku ini, keduanya mempunyai pola yang sama dimana seluruh kisah hidupnya diceritakan di dalam satu buku, namun tentu saja tidak membosankan.
the ending
Buku ini adalah tipe buku yang membuatmu termenung setelah membacanya. Begitupun aku. Setelah selesai, aku menutup bukunya namun tidak melepaskannya dari tanganku. Aku berpikir dan berpikir, menyatukan seluruh kepingan yang ada, merenungi apa yang baru saja terjadi, semuanya terasa begitu menyakitkan namun juga melegakan. Dan aku tidak bisa melupakannya selama beberapa hari, bahkan hingga sekarang aku masih ingat perasaanku ketika aku membaca halaman terakhir buku ini. :)

Komentar
Posting Komentar