Waktu SMA aku punya sebuah hobi yang sangat—sangat aneh.
Saat SMA aku tinggal di asrama dan di asramaku tidak boleh membawa Handphone atau barang elektronik lainnya, jadi aku tidak memiliki akses ke internet samasekali. Dan pas banget waktu SMA (entah kelas berapa) aku lagi di fase tergila-gila banget sama yang namanya matematika. Aku suka, aku cinta, sampai-sampai mengerjakan soal matematika rutin kulakukan tiap malam sebagai penenang setelah hari yang berat.
Biasanya aku mengerjakan soal yang belum pernah kupelajari sebelumnya di kelas dan mungkin tidak akan masuk materiku juga, random aja gitu haha. Dan aku benar-benar mempelajarinya dengan otodidak melalui langkah-langkah yang ada di buku meskipun kadang soal yang kucoba untuk selesaikan itu puluhan kali lebih sulit daripada contoh yang ada di buku dan itu membuatku memakan waktu yang sangat lama untuk menyelesaikannya, bahkan satu soal saja bisa memakan waktu berhari-hari. Padahal jika ada akses internet mungkin aku bisa menemukan langkah yang lebih cepat dan mudah, atau mencari soal yang mungkin hampir sama, jadi aku mengetahui langkah-langkah pengerjaannya secara tepat. Meskipun begitu aku tetap rela mengerjakan hanya dengan sumber terbatas, hanya karena aku suka, dan itu bukan mengharap nilai karena ini bukan tugas sekolah, ini juga mungkin tidak ada relasinya dengan materiku kedepannya, semuanya murni karena keisenganku dan rasa penasaranku.
Tapi dulu aku memang bodoh sekali sih, pokoknya apa yang aku suka ya aku lakukan saja, tanpa memikirkan hasilnya bagus apa tidak, waktu yang terbuang sia-sia atau tidak, efisien atau tidak, jika aku menyukainya aku tidak perduli apapun outcomenya.
Jadi jika dipikir-pikir sekarang melalui kacamata umum, sebenarnya dulu, hobi anehku itu samasekali tidak ada gunanya, karena soal matematika yang aku kerjakan itu bukan materi sekolahku, bukan untuk olimpiade juga, dan yang mampu kuselesaikan hanya sedikit karena yaa aku ga jago matematika (kalau kalian sudah mengimajinasikan aku jago, buang imajinasi itu jauh-jauh), gaada yang bisa ngajarin secara benar dan akurat, dan gaada akses internet untuk mengecek lebih jauh dan menambah referensi rumus. Dan bahkan ketika di pelajaran matematika sebenarnya ya nilaiku biasa-biasa saja, ga tinggi-tinggi banget, benar-benar kayak gaada hasilnya haha. Kan kata orang jika suka sama suatu pelajaran otomatis jago kan? ini uniknya aku suka doang, tapi ini aku ga jago haha sial amat, tapi meskipun begitu aku gapernah bosen dan meskipun banyak salah di mana-mana aku tetap suka terus mencari jawaban benarnya.
Kalau dipikir-pikir secara dangkal keliatan gaada hasilnya kan ya? Aku pun ga ngerasa sekarang aku jago matematika meski sudah belajar banyak.
Tapi kalau dipikir-pikir lebih dalam lagi sebenarnya hal-hal yang aku lakukan itu berdampak ke pola pikir dan kreativitasku.
Karena aku terbiasa mempelajari rumus secara otodidak tanpa guru ataupun resources yang luas dan gampang, aku jadi terbiasa belajar ‘apapun’ secara otodidak. Aku ingin belajar melukis? bisa, aku ingin belajar skill baru? bisa, aku ingin belajar bahasa lain? bisa. Dan belajar disini bukan hanya langsung mempelajari, tapi termasuk menyusun strategi, siklus, dan tingkatannya. Misalnya aku ingin belajar melukis maka aku akan menyusun tahapannya seperti mulai dari sketsa dahulu, lalu teori warna, lalu value, dsb. Dulu aku pikir semua orang bisa melakukan ini, aku pikir hal ini adalah hal biasa, hingga aku masuk ke perguruan tinggi dan aku sadar, ga semua orang bisa melakukan ini.
Disamping itu ada banyak benefit lain yang aku dapat, seperti tidak takut akan membuat kesalahan. Karena dulu aku tidak mempunyai guru yang membimbing (aku gabisa konsul ke guru sekolah karena waktunya terbatas dan tidak ada alat komunikasi jarak jauh juga untukku), jadi ketika aku mengerjakan sebuah soal, sedihnya tidak ada yang membimbing ketika soal yang kukerjakan salah, aku akan mencari caranya sendiri meskipun berkali-kali salah, mencoret berlembar-lembar kertas, hingga aku mendapat jawaban yang benar. Padahal jika ada yang membimbing, hanya perlu salah satu kali saja dan setelah itu akan dibimbing untuk menemukan cara yang benar. Namun aku dipaksa untuk mandiri dan tidak takut akan kesalahan. Dengan begitu aku mulai membentuk pola pikir bahwa ”tidak apa-apa salah untuk menemukan kebenaran” (if you know what i mean). karena semakin banyak aku salah semakin banyak di dalam kamusku bahwa “oh cara ini salah aku tidak boleh memakainya” dan kemudian di esok hari akan lebih besar kemungkinanku untuk menemukan cara yang benar karena aku sudah tau cara apa saja yang salah (uh kok jadi rumit banget ya tapi gitulah).
Aku juga menjadi seorang yang cepat tangkap karena terbiasa memahami sesuatu yang sulit seorang diri, ketika ada guru yang menjelaskan, rasanya seperti level kesulitannya berkurang dan lebih mudah untukku memahami pelajaran yang disampaikan. Selain itu aku juga cenderung mandiri, jika kesulitan aku akan terlebih dahulu mencoba menyelesaikannya seorang diri, jika memang sangat sulit baru aku meminta bantuan sekitar.
Intinya banyak sekali hal yang aku dapat dari sebuah “hobi aneh” yang kupikir tidak ada gunanya.
Tapi itu yang membuatku terus optimis untuk melakukan apapun hal yang aku sukai tidak perduli outcome-nya seperti apa, tidak perduli apakah ini berguna atau tidak, karena selama itu adalah hal yang kamu sukai dan kamu benar-benar serius dan berkomitmen untuk passionmu, tidak ada yang sia-sia atau tidak berguna.
Jadi untuk teman-temanku jangan takut untuk mencoba hal yang baru, jangan takut untuk menuruti keinginanmu yang mungkin terlihat ‘bodoh’ atau jangan mundur karena takut ia tidak memberikan hasil sesuai yang kau inginkan. Jika kau benar-benar menyukainya, jangan lepas ia. Selama kau benar-benar memberikan sepenuh hatimu untuk apa yang kau sukai, ia pasti berbuah manis, hanya saja kau tidak tau buahnya akan tumbuh dalam bentuk apa. Karena kau salah jika kau pikir hasil itu hanyalah sesuatu yang bisa kau lihat :).
Okay thats all from me hehe. Aku harap yang membaca bisa menangkap pesan moralnya disini. Byee~~

Komentar
Posting Komentar